Di tengah kegetiran akibat kemunduran pola permainan Timnas U-20 yang baru terhenti langkahnya di Piala Asia U-20, saya sudah sangat penat untuk memberi komentar atasnya.
Meski demikian, setidaknya bulan Februari ini diawali kegembiraan bagi saya pribadi dimana tim Football favorit saya sepanjang masa, Philladelpia Eagles kembali merebut Lombardy Trophy untuk kedua kalinya, kali ini di pimpin oleh Jalen Hurt.
Eagles? Philly? Kok pada ga tau ya?
Ya, tim ini adalah sebuah tim Football dengan basis penggemar terbesar di dunia, tepatnya American Football. Meski sebagian besar orang menganggap American Football sebagai olah raga yang keras, justru saya melihat olah raga ini sebagai salah satu yang terbaik dari segi perlindungan kepada pemain, dengan aturan yang ketat demi melindungi para pemainnya dari cidera, dan menghindari bentrok fisik yang diluar norma sportifitas.
Wasit, ketika melihat highlight di layar besar dalam stadium, dan menemukan adanya kesalahan keputusan, dapat secara serta-merta menahan keputusan dimaksud, untuk melakukan cek lebih mendalam.
Sepanjang 40 tahun lebih saya mengikuti olah raga ini, belum pernah terdengar di telinga saya terjadinya aksi tawuran antar pemain, apalagi sporter. Begitu besar dampak aturan ketat dalam meningkatkan nilai sportifitas dalam pertandingan American Football.
Para pemain, begitu menjunjung nilai ini. Bahkan hampir dapat dipastikan, setiap peluit akhir pertandingan, maka Quarterback yang merupakan pemain paling penting didalam permainan akan saling mencari untuk berbincang dan pihak yang kalah senantiasa mengucapkan selamat kepada Quarterback pemenang. Sebaliknya, sang pemenang akan menyemangati Quarterback yang kalah untuk terus bersemangat.
–
Menjadi seorang pemain American Football profesional tidak mudah. Secara normatif, mereka yang bermimpi untuk menjadi pemain profesional harus melalui jenjang pembibitan panjang sejak usia dini, level dasar, sekolah menengah, hingga universitas.
Dari 100 orang siswa SMA (High School yang memilih bermain Football) kurang dari 7 % yang mendapat kesempatan masuk le level Universitas (College).