Menjadi Komentator dan Pengamat Sepak Bola yang Benar?

Di +62, ada media massa, khususnya media televisi, yang terlalu mudah melabeli seseorang dengan gelar komentator mau pun pengamat sepak bola.(Supartono JW.01042025)
Pengamat pendidikan nasional
Pengamat sepak bola nasional

Di hari yang fitri, lebaran hari ke-2 Idufitri 1446 Hijriah, Selasa (1/4/2024), sebenarnya saya ingin rehat sejenak untuk menulis terkait berbagai hal aktual di negeri ini. Pasalnya, sejak ibadah Ramadan hari ke-1 sampai dengan hari ke-30, saya sudah menuntaskan menulis Buku “Potret Ramadan 1446 Hijriah, yang berisi 31 artikel.

Namun, karena ada beberapa pertanyaan dari beberapa pihak, terkait “pengamat sepak bola”, yang merujuk kepada tiga figur, maaf saya sebut: (1) Tommy Welly (TW), Akmal Marhali (AM), dan Justinus Lhaksana (JL), yang selama ini dianggap sebagai musuh bagi publik sepak bola nasional oleh netizen/warganet, karena kritikan-kritikannya.

Beberapa pihak yang juga sudah masif bersuara di berbagai platform media sosial, di antaranya mempersoalkan kedudukan mereka bertiga yang dianggap kurang layak disebut sebagai pengamat sepak bola karena latar belakangnya bukan sebagai pemain atau orang yang berkecimpung dalam sepak bola khususnya sebagai praktisi/pelaku/aktor di dunia sepak bola. Tetapi dianggap sok tahu dan ikut campur, bahkan mengkritik pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong (STy) sampai ke wilayah game plan, taktik, dan strategi. Padahal kedudukannya hanya sebagai orang luar, yang tidak tahu kondisi tim. Sampai berujung STy dipecat oleh Erick Thohir.

Namun, sebagai pengamat, apa yang dikiritik ketiga orang ini, menurut saya sah-sah saja. Anggap saja sebagai kritik, saran, dan masukan. Toh, yang namanya kritik, saran, dan masukan, bisa diterima atau ditolak.

Persoalan STy sampai dipecat, bisa jadi benar karena pengaruh kritik ketiga orang ini. Atau memang keputusan Erick Thohir sendiri. Sampai sekarang, kebenarannya, belum ada yang tahu.

Persoalan pengamat

Mengikuti kisah tiga pengamat ini, sampai netizen/warganet tidak terima dengan keberadaan mereka karena latar belakangnya, ada hal yang harus diluruskan, agar publik sepak bola nasional memahami dunia jurnalistik.

Dari pengalaman saya, sebab menulis di media cetak sejak 1989, label atau gelar jurnalistik baik bagi wartawan atau penulis lepas, tergantung dari redaksi media cetak bersangkutan.

Pengalaman saya sebagai penulis lepas yang akhirnya menjadi pengisi kolom opini/artikel di beberapa media, dunia jurnalistik akhirnya akrab melabeli sebagai kolumnis, karena menjadi penulis di kolom yang tetap.

Namun, perjalanan mengisi kolom itu, tidak serta merta, saya mendapat label sebagai penulis kategori praktisi apalagi pengamat. Untuk mendapatkan gelar praktisi hingga pengamat, perlu konsistensi dalam menulis dan mengirim artikel.




HALAMAN :

  1. 1
  2. 2
  3. 3


Mohon tunggu…

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya

Beri Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi
tanggung jawab komentator
seperti diatur dalam UU ITE


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *