Transformasi Pola Permainan Sepakbola Modern
Dalam permainan sepakbola, setiap pemain menjadi elemen penting. Kekurangan 1 saja pemain, akan membawa dampak besar terhadap hasil pertandingan.
Sejak Viktor Maslov mengkreasi pola 4-4-2 menggantikan pola klasik 4 – 2 – 4 sebagai formasi pakem dasar sepakbola modern, seluruh pemain di lapangan memiliki peran strategisnya masing-masing.
Dengan nomor punggung 1 identik dengan kiper utama, nomor 2, 3, 4 dan 5 adalah para pemain belakang. 6,7,8 milik pemain tengah dengan nomor 10 sebagai pengatur serangan, serta 9, 11 berperan selaku penyerang. Sejak Maslov meledak dengan Dynamo Kiev tahun 60’an, Inggris menjadi tim pertama di dunia yang berhasil meraih trofi piala dunia menggunakan pola dasar 4 – 4 – 2 (1966). Pola dasar ini sepertinya akan menjadi formasi tetap dunia (dengan variasi atasnya), bahkan Belanda dengan total football-nya pun (4 – 3 – 3) tidak mampu mendobrak tradisi 4 – 4 – 2.
Jika kita buka sejarah sepakbola dunia di era 70 hingga 2000-an, dapat dipastikan, setiap pemenang trofi piala dunia menggunakan pola dasar 4 – 4 – 2. Siklusnya baru terhenti pada tahun 2010 ketika Spanyol dengan tiki taka 4 – 3 – 3 menumbangkan Belanda pada partai final paling brutal sepanjang sejarah sepakbola. Terhadap tiki-taka Spanyol ini dapat disebut sebagai faktor pengecualian, karena kala itu memang tengah terjadi gelombang besar transisi pola permainan, bahkan Belanda sekalipun yang mencetus 4 – 3 – 3, pada periode ini menggunakan formasi 3 – 4 – 2 – 1 dengan Van Persie sebagai penyerang tunggal.
Spanyol tidak sepenuhnya memainkan pola 4 – 3 – 3 (kala itu), melainkan cenderung 4 – 2 – 3 – 1 dengan Xavi Alonso dan Sergio Busquets sebagai gelandang bertahan kembar di depan keempat pemain bertahan dan David Villa sebagai penyerang utama.
Jerman dan Belanda. Kedua raksasa sepakbola dunia ini mulai meninggalkan pola modern di awal tahun 2000-an. Jerman yang sebelumnya penganut fanatik 4 – 4 – 2 beserta hampir keseluruhan negara besar sepakbola di dunia, mulai memainkan 3 – 4 – 1 – 2, sementara Belanda (pencetus 4 – 3 – 3) saat ini identik dengan 3 – 4 – 2 – 1. 3 – 4 – 2 – 1 telah dibahas oleh penulis dalam artikel sebelumnya, akan tetapi bagaimana dengan 3 – 4 – 1 – 2 Jerman?
Pola 3 – 4 – 1 – 2 membawa Jerman juara pada Piala Dunia 2014
Pola 3 – 4 – 1 – 2 merupakan salah satu formasi yang menarik perhatian dalam sepakbola modern, terutama dalam konteks tim-tim besar seperti Jerman. Formasi ini memungkinkan tim untuk memiliki penguasaan bola yang lebih baik di sektor tengah, dengan empat gelandang yang dapat membantu dalam serangan maupun pertahanan. Kelebihan utama dari pola ini adalah fleksibilitasnya. Dengan tiga bek di belakang, tim dapat lebih mudah beradaptasi terhadap serangan lawan, sementara empat gelandang memberikan dukungan yang cukup untuk menciptakan peluang bagi dua penyerang di depan. Selain itu, posisi pemain nomor 10 yang berfungsi sebagai playmaker sangat krusial, karena ia dapat mengatur ritme permainan dan menjadi penghubung antara lini tengah dan lini serang. Miroslav Klose, dan Lukas Podolski menjadi duet penyerang mematikan bagi setiap lawan Jerman pada Piala Dunia 2014.
Namun, meskipun memiliki banyak kelebihan, pola 3 – 4 – 1 – 2 juga memiliki kekurangan yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah kerentanannya terhadap serangan sayap. Dengan hanya tiga bek di belakang, jika salah satu bek mengalami kesulitan atau terlambat dalam kembali ke posisi, tim akan mudah dieksploitasi oleh lawan yang memiliki pemain sayap cepat. Selain itu, formasi ini juga memerlukan gelandang yang sangat disiplin dan mampu berlari tanpa henti, karena mereka harus melakukan transisi cepat antara menyerang dan bertahan. Jika gelandang tidak mampu memenuhi tuntutan ini, maka keseimbangan tim akan terganggu, dan hasilnya bisa fatal.